jump to navigation

Percetakan dan Penerbitan Buku April 19, 2009

Posted by gwidianto in Print on Demand, Self Publishing.
Tags: , , ,
trackback

Perbedaan di Antara Keduanya

Pengarang baru kadang masih sulit membedakan apa yang disebut penerbit dan apa yang disebut percetakan buku. Keduanya memang berkaitan dengan bisnis perbukuan, tetapi penerbit biasanya tidak/tidak perlu mempunyai percetakan, sebaliknya percetakan tidak usah pusing dengan proses penciptaan buku dan masalah hak cipta intelektual (HAKI).  Jika ditelusuri esensi bisnisnya, percetakan dapat dikatakan merupakan bisnis nilai tambah kertas. Mengapa demikian? Karena percetakan bermodalkan dua komoditas, kertas dan tinta, lalu menambahkan nilai dengan menyatukan keduanya. Penerbitan dapat dikatakan sebagai perusahaan pemegang HAKI yang harus memasarkan apa yang telah diprosesnya menjadi komoditas bernama buku.

POD Ikut Berkiprah

Pada satu dekade belakangan ini, print on demand (POD) ikut menyemarakkan bisnis perbukuan dengan menawarkan cara baru mencetak dan buku. Seperti pernah diuraikan pada artikel dalam blog ini (“Mengapa Print On Demand”), POD memungkinkan penerbit memesan pencetakan buku dalam jumlah relatif kecil. Jika pada sistem cetak konvensional (offset) penerbit harus mencetak dengan jumlah relatif besar (biasanya di atas 1.000 eksemplar), maka pada POD penerbit dapat memesan cetak hanya beberapa puluh atau ratus eksemplar.

Konsekuensinya adalah modal yang dikeluarkan dari kocek penerbit menjadi relatif kecil. Pengarang yang biasanya menganggap penerbitan buku sebagai bisnis serius (dalam hal modal yang harus ditanamkan), kini mulai dapat berhitung untuk menerbitkan bukunya sendiri jika menginginkan naskahnya cepat terbit tanpa harus bergantung pada penerbit. Inilah yang belakangan disebut sebagai self-publishing. Jika self-publisher menjamur, maka peran penerbit sebagai perantara antara pengarang dan pasar mungkin tidak diperlukan lagi.

Pemasaran Self Publishing

Pemasaran tentunya perlu dipikirkan oleh mereka yang menerbitkan bukunya sendiri. Jika self publisher sulit menembus jaringan toko buku pengedar buku-buku terbitan penerbit besar, ia dapat mencoba memasarkan bukunya lewat toko buku online yang biasanya masih “indie” juga.

Sudah barang tentu persyaratan dan ketentuan yang berlaku pada toko buku online mirip dengan yang berlaku pada toko buku konvensional, tetapi dengan kemudahan tertentu karena banyak yang masih bersifat indie tadi.

Digio Publishing adalah salah satu layanan di dunia penerbitan dengan menggunakan teknologi digital printing. Dengan teknologi ini, layanan yang diberikan Digio adalah layanan POD alias print on demand. Dengan sistem ini, Digio dapat berperan sebagai penerbit maupun sebagai percetakan. Era baru penerbitan tidak dapat dihindarkan yaitu makin mudahnya upaya di bidang penerbitan berkat perkembangan teknologi cetak dengan sistem POD-nya.

Comments»

1. tri - May 5, 2009

numpang baca…